Crystal Palace, Prestise London Selatan

0
114
views

Crystal Palace, Prestise London Selatan Terbaru dari Bola Liga Crystal Palace, Prestise London Selatan. Berita Sepak Bola terkini dari Bola Liga kali ini berbagi informasi bola terbaru dengan judul Crystal Palace, Prestise London Selatan Sebagai tambahan Update terbaru hari ini, setelah anda membaca berita bola ini diharapkan anda bisa memberikan komentar yang sesuai atau berkaitan dengan isi berita yang kita bahas pada artikel ini, Bookmark dan tongkrongi terus halaman Bola Liga dan dapatkan bermacam berita sepak bola terbaru setiap harinya, Ok, tak perlu panjang lebar lagi berikut ini adalah ulasan lengkap dari Crystal Palace, Prestise London Selatan :
Bola Liga

Bola Liga – Nama Crystal Palace barangkali hanya akan tercatat di batu nisan jika konsorsium CPFC2010 tidak mengambil alih kepemilikan kesebelasan yang berasal dari London Selatan tersebut pada tahun 2010. Saat itu Palace sudah hampir dilikuidasi karena masalah keuangan. Steve Parish bersama ketiga rekannya lantas membentuk konsorsium CPFC2010. Parish pun ditunjuk untuk menjalankan kegiatan operasional Palace.

Itu adalah peristiwa monumental karena mengubah nasib Palace yang kini berada di papan tengah Premier League –peringkat kelima sampai pekan ke-19. Memang, saat ini, perhatian publik seolah terfokus pada sepak terjang Leicester City yang memimpin klasemen sementara. Padahal, ada sejumlah kesebelasan yang mencuri perhatian seperti Palace dan Watford yang pada pekan ke-17 masing-masing menempati peringkat keenam dan ketujuh.

Apa yang terjadi pada dua kesebelasan tersebut sebenarnya terbilang mengejutkan. Mereka tidak seperti Everton atau Tottenham Hotspur, misalnya, yang menjadi langganan di papan tengah. Sepanjang satu dekade terahir, Palace tak memiliki catatan memukau apapun di Liga Primer Inggris. Malah, mereka baru promosi ke Liga Primer pada musim 2013/2014.

Beberapa waktu lalu kabar baik menyelimuti kesebelasan yang sudah berusia 110 tahun itu (lahir pada 10 September 1905). Triliuner Amerika Serikat, Joshua Harris dan David Blitzer membeli masing-masing 18 persen saham. Untuk tahap pertama, Palace akan mendapatkan suntikan dana 50 juta poundsterling yang akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur seperti stadion dan akademi.

Dengan investasi tersebut, bagaimana peluang Palace ke depannya?

Dimulai dari Stadion

Terbilang mengejutkan saat Chairman Palace, Steve Parish, memutuskan untuk mengalokasikan dana investasi untuk pembenahan infrastruktur yang melingkupi stadion dan akademi. Padahal, secara teori, untuk bertahan di Premier League, Palace mesti mendatangkan pemain-pemain yang lebih kuat dari skuat yang ada sekarang.

Hal ini pun dikomentari oleh sang manajer, Alan Pardew, yang merasa kalau dana investasi tersebut tak akan berpengaruh pada anggaran belanja pemain.

“Saya harus paham bahwa stadion adalah bagian penting dari investasi ini. Saya paham, tapi saya tidak berpikir kalau investasi tersebut akan berpengaruh terhadap anggaran belanja pemain. Kami akan tetap berada di jalur yang sama,” tutur Pardew.

Pembenahan stadion pun lebih kepada merenovasi besar-besaran ketimbang membangun ulang stadion. Ini seperti yang pernah dilakukan Liverpool saat merenovasi tribun utama Stadion Anfield. Meski tengah direnovasi, pertandingan tetap bisa dihelat karena pengerjannya tidak menggangu pertandingan dan penonton.

Soal stadion, sebenarnya sejumlah kesebelasan di Premier League telah memiliki rencana untuk melakukan ekspansi. Manchester City misalnya, akan menambah kapasitas tribun belakang gawang Stadion Etihad. Sementara itu Chelsea akan memulai pembangunan Stamford Bridge yang baru pada musim 2017/2018. West Ham United pun telah mendapatkan izin penggunaan Stadion Olimpiade (Olympic Stadium).

Ekspansi stadion, selain untuk meningkatkan kapasitas tempat duduk, juga biasanya digunakan untuk meningkatkan kualitas stadion itu sendiri. Kenyamanan yang didapatkan penggemar bisa berdampak pada penyesuaian harga tiket. Selain itu, kehadiran sejumlah fasilitas penunjang seperti restoran, mall, hingga pusat kebugaran, akan menjadikan stadion bukan sekadar panggung pertunjukkan sepakbola, tetapi sebagai pusat aktivitas warga.

“Semua pemegang saham setuju, suntikan 50 juta pounds akan digunakan untuk pengembangan stadion, dan hal-hal lainnya akan mengikuti. Ini akan memberikan penggemar fasilitas kelas satu yang pantas mereka dapatkan,” tulis situs resmi Palace.

Mengakar di London Selatan

Tentu menyenangkan buat tim manapun saat mendapatkan suntikan investasi dari taipan minyak seperti yang terjadi pada Chelsea dan Manchester City. Investor tersebut seolah tidak pernah ragu untuk mengeluarkan uang demi belanja tim. Hasilnya pun bisa terasa begitu instan. Hanya perlu dua musim bagi Chelsea dan Manchester City untuk meraih gelar juara pertama mereka di Premier League setelah dipegang investor asing.

Namun, hal berbeda terjadi di Palace karena sang investor berasal dari Amerika. Seperti kita ketahui ada perbedaan cara pandang dari investor Amerika dengan sepakbola Inggris. Hal ini tentu bisa terlihat dari bagaimana sejumlah penggemar Manchester United dan Liverpool tidak begitu mencintai pemilik klub. Bahkan, sejumlah penggemar MU membentuk kesebelasan FC United of Manchester setelah Keluarga Blazer mengambil alih kepemilikan.

Sadar kalau investasi tersebut bisa membuat penggemar Palace khawatir, Steve Parish pun menegaskan kalau Harris dan Blitzer adalah pemegang saham terbanyak bersama dirinya dengan 18 persen. Namun, ia memastikan kalau pengelolaan Palace masih dipegang olehnya.

“Meskipun investor dari luar negeri bergabung dengan kami, hati dan jiwa kami tetap berada di London Selatan,” tulis situs resmi klub.

Investasi tersebut mengundang kekhawatiran karena penggemar takut Palace melangkahi batas. Ketimbang kesebelasan lain, cara Palace menarik simpati penggemar bisa dibilang berbeda.

Parish memiliki jabatan tertinggi dalam pengelolaan Palace. Soal pengelolaan ia memiliki pengalaman dengan menjadi pemilik perusahaan analis merek, Tag Worldwide. Dengan pengalamannya tersebut, Parish tentulah memiliki segudang strategi untuk kembali membangkitkan Palace. Cara yang ia gunakanpun terbilang tak biasa.

Sadar kalau ia dan rekan-rekannya di konsorsium tak punya dana segunung, Palace pun lebih memilih untuk memperkuat nama mereka di masyarakat London Selatan. Manajemen The Eagles pun mulai membuat iklan di papan reklame di jalan tol yang menghubungkan London Selatan dengan daerah lainnya.

Salah satu iklan tersebut menampilkan Nathaniel Clyne dengan tulisan “Lahir di London Selatan” dengan huruf tebal pada bagian bawah foto. Clyne sendiri sebelum dikenal sebagai pemain Liverpool dan Southampton, pernah berlatih di Akademi Palace. Bek kanan kelahiran 5 April 1991 tersebut pun mencatatkan 122 penampilan bersama Palace sebelum pindah ke Southampton.

Dari iklan-iklan tersebut, menurut Squawka, anehnya tidak ada informasi yang berhubungan dengan kegiatan bisnis tim seperti penjualan tiket musiman ataupun merchandise. Palace, di bawah Parish, memang benar-benar ingin meraih masyarakat London Selatan untuk mencintai mereka. Ini pula yang membuat mereka membuat slogan baru bertajuk “South London and Pride”.

Dalam sensus 2011, terlihat bahwa London Selatan merupakan wilayah dengan masyarakat beragam. Masyarakat “asli” Inggris yang berkulit putih hanya 47,3 persen. Malah, di distrik Thornton Heath, yang jaraknya cuma sepelemparan batu dari Selhurst Park, populasi warga berkulit hitam keturunan Karibia, merupakan yang terbanyak ketimbang tempat lain di London.

Hal ini tentu memengaruhi komposisi masyarakat di Akademi Palace. Salah seorang yang memiliki peran menonjol di tim adalah Jason Puncheon. Jason merupakan pemain asli London Selatan, sama seperti Clyne.

“Sebanyak 80 persen anggota akademi kami berkulit hitam,” tutur Pardew dikutip dari Squawka, “Kehadiran Jason amat penting terutama di sekitar pemain muda berkulit hitam. Kami membutuhkan mereka di tim utama agar bisa menjadi contoh yang baik kepada para pemain muda.”

Apa yang dilakukan Palace dengan membuka diri terhadap etnis minoritas merupakan bagian dari strategi pemasaran nama mereka. Pasalnya, warga berkulit hitam terbilang jarang datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan. Namun, berdasarkan penelitian yang dikutip dari Squawka, jumlah masyarakat kulit hitam kian melonjak saat ada pesepakbola dari etnis mereka yang bermain.

Tidak mengherankan kalau Palace pada akhirnya memuat foto Clyne, Sean Scannell, dan Kieron Gadogan di iklan-iklan mereka. Pasalnya, selain sama-sama lahir di London Selatan, mereka pun berkulit hitam.

Di Palace pun tercatat sejumlah pemain kulit hitam yang memegang peranan penting di tim mulai dari era Wayne Routledge yang kini membela Swansea City, hingga era Wilfried Zaha yang meskipun lahir di Pantai Gading, tapi tumbuh besar di London Selatan.

Di luar sepakbola, Palace lewat yayasan The Crystal Palace Foundation pun membuat pusat studi yang memiliki sejumlah program yang terbuka untuk semua masyarakat. Pusat studi tersebut menghadirkan kelas membaca, menghitung, dan IT.

“Yayasan kami telah melakukan kerja hebat. Mereka mau meluangkan waktunya sebagai sukarelawan. Namun, kami belum mendukung mereka secara baik. Saya tidak mengkritisi pemilik lama. Dulu, kami tak pernah punya uang, sehingga kami akan membuat aktivitas sosial ini sebagai prioritas,” kata Parish dikutip dari Squawka.

Selain itu, para pemain pemain pun setuju sebagian bonus mereka dipotong untuk disumbangkan ke yayasan. Bahkan, sejumlah pemain menyumbangkan gajinya untuk aktivitas sosial Yayasan Crystal Palace.

“Saya tak ingin melakukan aktivitas sosial itu semua hanya karena akan terlihat bagus saat dicetak di pamflet ataupun di rilis pers. Saya amat ingin menggunakan embel-embel klub sepakbola untuk melakukan sejumlah hal yang benar-benar bisa membantu semua orang. Jika kami ada di Premier League saya bisa memecahkan semua masalah, dengan membagikan pendapatan untuk membantu aspek lain dari klub. Namun, Anda tahu kalau kami tak bisa melakukan itu sekaligus,” tutur Parish.

Memprioritaskan Masyarakat

Tentu menjadi aneh saat Pardew sama sekali tidak ngotot soal besaran dana yang diberikan untuknya buat transfer pemain. Pardew, yang juga bekas pemain Palace, agaknya paham target macam apa yang diinginkan Parish.

Mengalokasikan suntikan investasi untuk stadion menjadi hal yang realistis. Di tangan Parish, Selhurst Park sudah mulai direnovasi. Kini telah berdiri bar dan restoran di dalam stadion. Tujuannya adalah untuk membuat stadion memiliki nilai lebih ketimbang sekadar menggelar pertandingan sepakbola.

Parish beranggapan kalau sepakbola lebih dari sekadar apa yang ada di atas lapangan. Dikutip dari Squawka, ia beralasan kalau kesebelasan juga perlu menyediakan tempat yang menyenangkan untuk teman dan keluarga untuk datang bersama setiap dua minggu.

Selain itu peningkatan kualitas infrastruktur akademi pun menjadi prioritas. Pasalnya, Palace menjadi tempat yang menjanjikan buat pemain muda utamanya di London Selatan. Lewat Palace, mereka bisa bermimpi untuk bermain di Premier League.

Ketimbang Everton atau Newcastle, misalnya, Palace punya lawan yang tangguh. Anak-anak muda di London Selatan mungkin lebih memilih untuk mendukung kesebelasan London yang lebih besar. Maka, pendekatan terhadap masyarakat pun menjadi perlu.

Hal ini pun didukung penuh oleh Pardew. “Kami mendatangkan pemain dengan uang dan pada waktu yang tepat. Itulah mengapa kami memiliki skuat yang bagus, yang amat kuat,” tutur Pardew.

“Saya pikir kami tak akan terlalu sibuk pada Januari. Kami malah akan mendapatkan surplus dari pemotongan skuat di mana satu atau dua pemain akan pergi baik dipinjamkan atau pindah permanen. Tentunya kami tak ingin kehilangan pemain kunci kami, karena mereka yang membawa klub ini bisa maju,” ucap Pardew.

Di sisi lain Pardew pun bersyukur karena ia menganggap Palace memiliki lingkungan yang tepat buatnya melatih. Hal paling penting buatnya adalah Palace tidak berada dalam tekanan keuangan, “Sehingga saat ada kesebelasan yang ingin menawar salah satu pemain bintang kami, mereka harus menawar secara keras. Kami berada dalam posisi yang menguntungkan.”

Cara yang dilakukan Parish bisa dibilang ampuh. Beberapa tahun lalu, rataan penggemar yang hadir ke Selhurst Park hanya berkisar 13 ribu. Ini yang membuat stadion berkapasitas 26 ribu itu terasa begitu sepi. Musim lalu, jumlah penonton melonjak ke angka 24 ribu atau yang keempat terendah di Premier League. Ini bukan berarti kalau mereka sepi penonton melainkan kapasitas stadion yang memang kelewat kecil. Maka, wajar kalau manajemen Palace ingin merenovasi stadion serta meningkatkan kapasitas menjadi 40 ribu kursi.

Investasi yang ditanamkan di Palace amat berbeda dengan yang terjadi di Manchester City ataupun Chelsea. Investor tidak menanamkan uangnya untuk penambahan skuat. Mereka justru meningkatkan infrastruktur yakni renovasi stadion dan peningkatan kualitas akademi.

Mungkinkah dengan cara seperti ini Palace bisa bertahan lama di Premier League? Atau mungkin apa yang dilakukan Palace bisa menjadi formula baru dalam pegelolaan kesebelasan yang justru tak memiliki pendukung lokal?

====

* Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball
(dtc/din) Sumber: detiksport

Berita Bola – | Bola Liga
Sumber: Bola Nasional – Terima Kasih Anda telah menyimak Berita bola berjudul Crystal Palace, Prestise London Selatan semoga bisa menambah info bola anda hari ini, bagikan pada teman anda di facebook, Twitter dan lainnya supaya update Crystal Palace, Prestise London Selatan bisa lebih bermanfaat. Ikuti terus halaman bolaliga dan dapatkan berbagai Berita Bola setiap harinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here