Pembinaan Sepakbola Usia Muda dan Dekrit Presiden

0
235
views

Pembinaan Sepakbola Usia Muda dan Dekrit Presiden Terbaru dari Bola Liga Pembinaan Sepakbola Usia Muda dan Dekrit Presiden. Berita Sepak Bola terkini dari Bola Liga kali ini berbagi informasi bola terbaru dengan judul Pembinaan Sepakbola Usia Muda dan Dekrit Presiden Sebagai tambahan Update terbaru hari ini, setelah anda membaca berita bola ini diharapkan anda bisa memberikan komentar yang sesuai atau berkaitan dengan isi berita yang kita bahas pada artikel ini, Bookmark dan tongkrongi terus halaman Bola Liga dan dapatkan bermacam berita sepak bola terbaru setiap harinya, Ok, tak perlu panjang lebar lagi berikut ini adalah ulasan lengkap dari Pembinaan Sepakbola Usia Muda dan Dekrit Presiden :
Bola Liga

Melihat perkembangan sepakbola ahir ahir ini semakin miris dan memilukan dan tidak tentu arah dan tujuan. Menpora sendiri juga terlihat kebingungan karena baru tersadar bahwa efek domino dari ‘surat sakti’ dia sudah melebar kemana mana.

Janji manis perubahan tata kelola sepakbola yang lebih baik juga bagai garam di lautan. Gelaran akbar Piala kemerdekaan yang digadang gadang menjadi titik balik malah menjadi umpan balik karena mutu pertandingan yang lebih pas dikatakan ‘Piala Dadakan’ karena hampir semua team terbentuk secara dadakkan. Jadilah pertandingan ibarat sebuah latihan, organisasi permainan yang semrawut, panpel yang kalang kabut sampai adu pukul dan terlambatnya match fee dan hadiah.

Anehnya semua pihak yang selama ini mengklaim akan membawa tata kelola yang baik seperti ‘bobok manis’ dan tidak ada suara sumbang dari BOPI yang selama ini selalu fals dalam membuat pernyataan. Gelaran Piala Presiden sedikit memberikan gairah sepakbola lebih baik. Walaupun banyak terjadi kekurangan seperti mundurnya ‘Bonek FC’ yang terpaksa harus ganti nama karena ‘tangan Tuhan’, sedikit memberikan noda, serta kerasnya ‘wresting’ Persib Bandung VS Pusamania yang seharusnya pertandingan akan berhenti cuma 45 menit seandainya wasit menggunakan standart AFC Karena pasti salah satu team terkena minimum 4 kartu merah yang secara aturan harus diberhentikan.

YOUTH DEVELOPMENT

Inilah hal yang paling memprihatinkan terjadi di sepakbola Nasional. Di sektor yang seharusnya PSSI maupun Menpora mulai melakukan perbaikan justru terjadi penjegalan dimana mana. Anehnya Pra PON yang menjadi hajatan KONI yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah malah tidak terlaksana karena lagi-lagi ada ‘surat sakti’ dari tim transisi. Bapak ketua tim transisi seperti kita ketahui mempunyai rekam jejak yang sangat baik dalam hal penegakan hukum selama menjabat di KPK , tetapi ternyata juga bisa ‘lupa’ bahwa Tim Transisi sudah dilarang oleh keputusan sela PTUN Jakarta Utara. Awalnya setelah putusan terlihat ‘malu malu’ dan menyatakan menghormati keputusan pengadilan. Terakhir ‘back in action’ dengan gagah berani menyatakan kalau keputusan pengadilan belum ‘tetap’.

Kalau persoalan kekuatan hukumnya belum tetap seharusnya PSSI juga boleh mengadakan kegiatan sepakbola, karena statusnya dimenangkan pengadilan PTUN. Nyatanya yang satu boleh yang satu tidak. Barangkali ‘Sang Ketua’ lebih baik meniru langkah Marcelo Lippi, setelah sukses dengan Italia lebih memilih untuk mundur karena Cuma ada satu jalan yaitu ‘menurun’ setelah sampai ke puncak. Lippi juga tidak terjun ke dunia penegakan hukum karena percaya aparat negeri pizza walaupun mafia masih terjadi dimana mana dan yang paling penting Sang Legenda sadar bahwa ‘hukum’ bukan dunia dan keahlianya.

‘Piala Menpora U 15’, itulah janji Bapak Menteri untuk memulai gelaran usia muda. Gelaran pertama dimulai di Pasuruan dimana banyak team yang lebih terlihat seperti Tim U17 karena buruknya screening pemain. Wasit juga mendapat intimidasi dari ‘oknum panpel’ untuk memenangkan team tertentu. Hasilnya berupa banyaknya dagelan dan sandiwara sepakbola. Protes terjadi di sana sini bagi team yangdizolimi. Hasilnya PUMA Akademy berhasil tertolong uang koin sehingga BPK.

Riyadi sang ketua, pendermawan yang bersahaja menagis haru mengangkat piala menpora. Selesai pertandingan yang ditutup Bapak menteri terjadi kegaduhan yang luar biasa, dikarenakan hadiah yang dijanjikan terlupakan. Jadilah team juara 1 dan 2 rame rame mendatangi kediaman ketua panpel untuk meminta haknya. Ironisnya Bapak menteri sedang ‘dijamu’ makan malam , sehingga suasana sedikit kacau.

Korban terahir dari ‘surat sakti’ tim transisi (yang juga akan segera di transisi karena anggotanya tidak jelas) adalah Piala Gubernur Jatim U15 dan U17 dimana 36 Asosiasi Kabupaten telah berkumpul untuk technical meeting tetapi dibatalkan karena kondisi yang sama. Inikah yang disebut perbaikan tata kelola sepakbola? Anak anak usia dini calon penerus generasi sepakbola Indonesia juga harus binasa seperti senior seniornya. Ibarat perang tindakan ini seperli layaknya ‘genosida’ dimana menumpas habis musuh sampai anak anaknya. Perlu diingat awal mulanya sengkarut sepakbola hanya urusan Persema dan Persebaya dan hal ini sudah selesai lewat tangan Tuhan. Kenapa sekarang menyasar ke Asprov dan Askab dan usia dini yang jauh dari sepakbola professional ala BOPI.

DEKRIT PRESIDEN ATAU TAP MPR

Itulah seharusnya yang dilakukan pemerintah untuk memfinalisasi kisruh dan semrawut sepak bola Nasional. Terbitkan saja ‘DEKRIT PRESIDEN’ dan selanjutnya ajukan ke MPR bahwa PSSI dan seluruh jajaranya di Indonesia adalah ‘organisasi terlarang’ di Indonesia sehingga segala aktifitasnya otomatis akan dibekukan dan semua pengurusnya dipenjarakan. Segala symbol symbol PSSI (seperi yang dilarang di Piala Presiden) dilarang ditampilkan dan barang siapa yang menggunakanya di kenakan pasal pidana. Setelah itu Presiden perlu membuat satu kementrian baru yaitu ‘Menteri Sepakbola Republik Indonesia’.

Dengan begitu sudah tidak ada lagi perdebatan atau perbedaan di negeri ini. Sepakbola bisa berjalan dan kepastian hukumnya jelas. Tidak perlu lagi pembekuan oleh Menpora yang seharusnya dibekukan sejak dahulu karena masivenya korupsi di hambalang dan menurunya prestasi olah raga Indonesia yang di Seagames terahir peringkat ‘terbaik kelima’ yang barangkali kalau di Jepang menterinya akan melakukan ‘hara-kiri’ (bunuh diri) karena malu.

Kalau memang pemerintah mau tegas, diatas adalah langkah terbaik, kalau memang tidak ya kembalikan ke pemangku kepentinganya siapapun itu. Kontrol dan awasi, buktikan kalau ada mafianya dan koruptornya (yang merupakan keahlian ketua Transisi), adili dan penjarakan, biar menjadi efek jera buat yang lain.

Bangunlah fasilitas yang menyeluruh di semua negeri, sehingga kualitas sepakbola di Indonesia membaik. Majukan Universitas Universitas olahraga di Indonesia seprti UNJ Jakarta, Unesa Surabaya (Yang ironisnya tidak punya lapangan sepakbola) sehingga bisa mengasilkan scientis yang hebat untuk mendampingi para praktisi sepakbola.

Ada petah jawa ‘Nek wani ajo wedi wedi, Nek wedi ojo wani wani’ adalah sikap bijak, jadi kalau mau berani melangkah jangan tanggung, kalau takut mundur teratur saja, karena ‘You can fool everybody some times, You can fool somebody all the time BUT You cannot fool everybody all the time.’

Opini : Rasiman (Coach Youth Development)

Berita Bola – m | Bola Liga
Sumber: Bola Nasional – Terima Kasih Anda telah menyimak Berita bola berjudul Pembinaan Sepakbola Usia Muda dan Dekrit Presiden semoga bisa menambah info bola anda hari ini, bagikan pada teman anda di facebook, Twitter dan lainnya supaya update Pembinaan Sepakbola Usia Muda dan Dekrit Presiden bisa lebih bermanfaat. Ikuti terus halaman bolaliga dan dapatkan berbagai Berita Bola setiap harinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here